brit finucci

    Selasa, 20 Maret 2018, Dr. Brit Finucci, peneliti dari Victoria University of Wellington menjadi salah satu pemateri dalam kegiatan serial Workshop Marine Biodiversity Prodi Ilmu Kelautan memaparkan akan pentingnya ekosistem laut dalam yang jarang diketahui banyak orang. Ternyata perikanan laut dalam tak luput dari eksploitasi besar-besaran dengan menggunakan alat tangkap dasar yang merusak. Padahal ekosistem ini cukup unik dan masih jauh dari sentuhan peneliti. Dr. Finucci memberikan gambaran bahwa perairan Sulawesi Utara  cukup menarik mengingat beberapa tempat di perairan ini ditemukan ikan raja laut seperti Latimeria menadoensis dan baru baru ini pernah ditemukan juga hiu laut dalam yang diduga dari marga/genus Oxynotus. Dr. Finucci berharap untuk memperkuat kerjasama riset antara institusi tempat dia bernaung dan Universitas Sam Ratulangi dan menyanggupi untuk membantu kegiatan riset perikanan laut dalam bagi mahasiswa tugas akhir.

     

    Frengky Palendeng, Gledys Poluan dan Pricilia Ompi adalah mahasiswa Prodi Ilmu Kelautan yang mengikuti Program Sakura Exchange in Science sejak tanggal 18 – 27 Agustus 2018 di Tokyo University of Marine Science and Technology (TUMSAT) bersama teman-teman dari program studi lain di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi, dimana Prof Tsuyoshi Sasaki adalah sebagi host kegiatan ini. Di Jepang, Frengky, Gledys dan Pricilia bersama teman-teman mendapatkan gambaran yang utuh tentang banyak hal tentang pengelolaan lingkungan integratif yang dilakukan secara tradisional oleh masyarakat Jepang. Pemahaman hubungan yang erat antara keharmonisan alam dari daerah hutan sekitar hulu, sungai dan laut akan sangat membantu kehidupan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Bila salah satu rantai rusak/tidak bekerja dengan baik maka semua titik rantai akan terkena imbas. Bila hutan rusak, misalnya maka akan terjadi erosi dan mengakibatkan sungai yang kotor dan akhirnya laut yang kotor. Hal demikian akan mengakibatkan kehidupan perekonomian dan sosial masyarakat akan terganggu karena kerusakan susulan dari hulu sampai hilir. Frengky, Gledys dan Pricilia belajar bagaimana masyarakat Jepang menjaga lingkungannya dari ketiga titik utama itu: hutan-sungai dan laut. Dalam mempelajari itu, Frengky, Gledys dan Pricilia berkesempatan mengikuti alur sungai di daerah Kuzakai (perbatasan Miyako dan Morioka City) sampai ke bagian hulunya. Mengekplorasi ikan Salmon yang bertelur di bagian hulu dan mengobservasi anak-anak Salmon yang berkembang. Kemudian mereka menyusuri ke bagian pertengahan sungai, melihat bagaimana masyarakat perkampungan Jepang memanfaatkan dan menjaga sungai dengan baik. Tidak menjadikan sungai sebagai tempat sampah. Dan akhirnya, mengunjungi Kota Miyako sebagai salah satu kota perikanan di bagian utara Jepang. Di kota ini Frengky, Gledys dan Pricilia belajar bagaimana kondisi perairan pantai di kawasan Taman Nasional Jodogahama juga mengunjungi industri perikanan Kota Miyako. Selama di Miyako, Frengky, Gledys dan Pricilia dan kawan-kawan berbaur dengan masyarakat jepang terutama kaum muda Jepang. Mereka membuat pertunjukan budaya dengan mengenalkan Dansa Poco-Poco kepada Masyarakat Jepang.

    Sebelumnya, mereka semua mendapatkan pelajaran di kelas secara teoritis tentang mekanisme nexus hutan, sungai dan laut selama 3 hari di Kampus Tokyo University of Marine Science and Technology (TUMSAT) di Tokyo. Mereka mendapatkan pengalaman langsung tata cara kuliah yang dilakukan di Jepang.

    Kegiatan ini diinisiasi oleh dua orang Dosen Prodi Ilmu Kelautan masing-masing Dr. Kakaskasen Andreas Roeroe dan Dr. N. Gustaf F. Mamangkey bekerjasama dengan Prof. Dr. Tsuyoshi Sasaki  dari Tokyo University of Marine Science and Technology, Jepang.

    Halaman 5 dari 5

    Hubungi Kami

    Prodi Ilmu Kelautan
    Gedung B, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi, Manado 95115.
    Telp/Fax: 0431-868027

    © 2018 Program Studi Ilmu Kelautan FPIK Unsrat